Keroncong di dusun Banggalan pertama kali dibawa alm. Suroyo selaku tokoh keroncong Jogja. Pada tahun 1988, beliau menawarkan kepada masyarakat Banggalan untuk membentuk sebuah grup keroncong. Penawaran alm. Suroyo mendapat tanggapan positif dari masyarakat Banggalan hingga dapat terbentuk grup dengan nama “Wijaya Kusuma”. Grup ini memiliki formasi awal sebagai berikut.

  1. Alm. Suroyo sebagai pemegang flute
  2. Jumadhi sebagai pemegang ukulele
  3. Sugeng sebagai pemegang bass
  4. Marsandi sebagai pemegang biola
  5. Alm. Eko sebagai pemegang cik
  6. Lidia (menuk) sebagai vocal I
  7. Alm. Riyono dan Jumat Susilo sebagai vocal II

Namun demikian, grup “Wijaya Kusuma” mengalami persaingan ketat seiring dengan tingginya minat masyarakat dengan jenis kesenian yang lain. Hal ini disebabkan pada kala itu keroncong belum begitu diminati masyarakat sekitar daerah Magelang. Pada awal pembentukkannya, permainan musik keroncong biasa dimainkan pada sela-sela tarian Kubro. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan kesenian keroncong pada masyarakat. Pemilihan Kubro sebagai media promosi disebabkan oleh pada saat itu kesenian Kubro merupakan kesenian yang paling diminati oleh masyarakat.

Saat ini, kesenian keroncong tetap hidup di dusun Banggalan. Terdapat beberapa perbedaan pada cara menjalankan kesenian keroncong di masyarakat Banggalan pada jaman dahulu dan saat ini. Perbedaan yang mencolok adalah kemampuan SDM yang tersedia. Saat ini sudah banyak seniman yang dapat bermain musik hanya dengan mengandalkan feeling tanpa harus menggunakan latihan dalam jangka panjang. Tentunya hal ini sebabkan oleh jam terbang yang sudah tinggi oleh masing-masing pemain musik keroncong di dusun Banggalan.